Cerita ini berawal ketika aku mengenyam pendidikan di bangku
SMA. Saat SMA kelas dua kami di wajibkan oleh sekolah untuk memilih jurusan
sesuai yang di inginkan. Ada dua jurusan yang dapat di pilih yakni IPA dan IPS,
aku memilih IPA. Di situlah aku mengenal sosok laki-laki yang setiap hari
selalu menjadi orang yang membuat hidup ku menjadi sial. Khairun Adam namanya
yang sehari-hari di panggil adam.
Permusuhan antara aku dan Adam bermula dari OSIS, Adam ketua
OSIS dan aku sekretaris OSIS, Adam termasuk orang yang keras kepala. Apa yang
di inginkannya haruslah di turuti. Tak jarang apa yang menjadi kebijakannya itu
selalu bertentangan dengan jalan pikiran ku sehingga kami sering sekali tidak
sejalan ketika akan melaksanakan kegiatan OSIS.
Kami sekelas namun kami tak bisa di satukan. Di kelas kami
hanya kelai kalau tidak kami selalu saling diam, sehingga teman sekelas selalu
mendoakan agar kami berjodoh di kemudian kelak. Tapi antara aku dan Adam tidak
menyukai akan hal itu sehingga kami tambah sering kelai. Pernah suatu ketika
aku selalu memimpikan Adam, aku bermimpi bahwa kami bersanding di plaminan,
mimpi itu terus datang sehingga aku di kelas hanya diam. Teman ku yang bernama
tika menyadari akan kediaman ku sehingga dia menanyakan apa yang telah terjadi
oleh ku dan aku pun menceritakan kepada tika apa yang terjadi dan dia malah
menertawakan ku. Tika mendukung jika mimpi itu benar-benar terjadi. Sejak saat
itu diam-diam aku mulai mengagumi Adam.
Banyak cara yang aku lakukan untuk menyembunyikan perasaan
ku. Salah satunya aku selalu membangkang, selalu tidak menyetujui atas apa yang
dilakukan dan apa yang di katakan oleh Adam.
Rasa ini bertahan hingga kami menginjak kelas tiga semester
dua. Di saat itu pelajar kelas tiga memilih Universitas yang akan di tuju
setelah tamat dari SMA. Aku hanya diam karena aku tidak melanjutkan kuliah, aku
mendengar kabar bahwa Adam bercita-cita ingin menjadi seorang TNI. Rasa ini
sedih karena pastinya akan jauh.
Kami pun melewati masa-masa tersisa di SMA seperti biasanya
hingga kami tamat. Aku dan Adam tak pernah mengucapkan kata maaf apa lagi
berniat untuk baikan.
Tujuh tahun telah berlalu dan rasa ke Adam seakan luntur
seiring berjalannya waktu. Tak pernah ku temui atau ku dengar kabar tentang
Adam.
Kini aku kerja di salah satu butik terkenal di daerah
Pekanbaru. Suatu hari butik sedang ramai di kunjungi oleh pelanggan, aku pun
sibuk kesana kemari melayani para pelanggan.
“Brraakkk” tidak sengaja aku menabrak salah satu pelanggan
pria butik di tempat aku bekerja hingga barang bawaannya terjatuh. Aku
membereskan dengan cepat barang-barangnya yang aku jatuhkan dan aku sangat
terkejut ketika pria itu menegur ku “Findaa kan??” Tegur pria itu. “Siapa ya
??” Tanya ku sambil mengingat sosok pria gagah di depan mataku. “Aku Adam.
Iyakan kamu Finda? Teman sekelas ku saat SMA” kata pria itu. “Oooo Adam.
Iyaa-iya aku ingat kok” kata ku bahagia. “kamu kerja di sini?? Sudah tujuh
tahun ya kita tak ketemu. Kamu beda banget lho, gak kayak dulu. Sekarang tambah
cute aja!!” katanya menggoda sambil
mencubit halus lengan ku. “Iyaa aku kerja di sini. Hahhaha kamu ni ya dam bisa
aja deh gombalnya. Kamu kerja dimana sekarang?? Udah nikah apa belum??” kata ku
sambil tersipu malu. “waah ngeledek ni kayaknya. Aku belum nikah kok, belum ada
yang pas, masih nungguin cinta SMA ku. Alhamdulillah aku jadi AKPOL, sekarang
di tugasin di Pekanbaru.” Jawabnya serius. “siapa cinta SMA mu?? Si fita yaa??
Dia udah nikah keles. Ya baguslah dam, kalau udah mapan baru nikah.” Kata ku
meledek. “gak ah, ngpain cewek kayak gitu di tungguin. Mendiiiiingg” “Dam, aku
mau lanjut kerja ya.. kapan-kapan kita ngobrol lagi ya. Hari ini aku pulang jam
delapan malam jadi ni mau beres-beres” kata ku memotong pembicaraan Adam. “ya
udah deh kamu lanjut lah kerjanya. Ntar jam delapan aku kesini lagi, aku jemput
kamu. Jalan-jalan dulu kita” katanya. “tapi....” kata ku. “gak ada tapi-tapian
deh fin, aku maunya kita malam ini jalan. Mengenang masa lalu” katanya sambil
mendekati kasir untuk membayar barang belanjaannya.
“Dasar pria aneh” kata ku menggerutu sendirian.
Kini waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Dan aku bersiap-siap
pulang. Baru saja aku berjalan beberapa langkah dari butik tangan ku di tarik
oleh pria bertopi hitam, mengenakan kemeja biru dongker dan jeans biru dongker
hingga aku hampir terjatuh namun tak terjatuh karena aku berada dalam rangkulannya.
Sekitar satu menit aku berada dalam rangkulannya, mata kami saling bertatapan
satu sama lain dan ku lihat dari bibirnya sebuah senyuman yang selama ini tak
pernah ku lihat, jantung ini berdetak lebih cepat dan darah ini mengalir begitu
derasnya. Lalu aku tersadar “Lepasin aku dam. Apa-apaan ini??” kata ku. “maaf
Fin, gak berniat kasar sama kamu, habisnya kamu jalan cepet banget kayak
menghindar dari aku” katanya melas. “Bukan menghindar, aku gak nyangka kalau
kamu beneran jemput aku” kata ku. “aku pengen ngajak kamu jalan malam ini.
Itupun kalau kamu mau” kata Adam. “kamu serius?? Kalau serius aku mau kok.
Banget malahan.” Kata ku bahagia. “Iya aku beneran kok. Tapi sebelum kita jalan
aku mau minta Nomor hp dan Pin BB kamu dong biar kita makin sering ketemu. Dan
aku memberikan nomor hp dan pin ku ke Adam. Lalu kami pun jalan-jalan. Ketika
Dinner di sebuah cafe, Adam memberikan aku sebuah kotak biru dengan pita biru
“ini untuk kamu. Birukan? Kayak warna kesukaan kita” katanya sambil menyerahkan
kotak kepada ku. “Ey. Apa ini?? Ku buka sekarang ya dam??” kata ku. “jangan di
buka sekarang, ntar aja kalau udah di rumah baru kamu buka” katanya memohon.
“iya deh. Makasi ya dam. Makasi buat malam ini dan makasi atas kotak birunya.”
Kata ku tersenyum manis kepada Adam. “Iya sama-sama Finda. Fin, foto-foto yuk
buat kenang-kenangan kita berdua.” Katanya sambil mengeluarkan iphonenya. Kami pun silih berganti model
gaya, hingga gaya wajah kami bertatapan dan sangat dekat. Kami pun saling
mengirim foto-foto hasil jepretan
malam ini. Aku mulai mengantuk dan Adam mengajak ku pulang dan ia mengantarkan
ku sampai di depan rumah ku. Sampainya di kamar, aku langsung membuka kotak
biru pemberian Adam dan isinya adalah sebuah Pashimina berwarna biru. Aku
sangat bahagia atas pemberian Adam dan aku pun melihat-lihat foto kami berdua
tadi, alangkah terkejutnya aku ketika aku sedar bahwa aku telah memiliki
seorang tunangan yang rencananya bulan depan kami akan menikah. Aku diam dan
meneteskan air mata dan merintih di dalam hati “Ya Allah, apa yang terjadi pada
ku? Akankah rasa pada Adam ini muncul kembali. Tapi bagaimana dengan Fahri? Aku
tak mungkin menyakiti atau meninggalkannya.. Ya Allah berikanlah hamba kekuatan
untuk semua ini” tak lama aku pun tertidur dengan linangan air mata ku.
Aku bangun jam 05.00 seperti biasanya. Dan ketika aku
melihat Handphone ku ada message dari Fahri yang isinya “Selamat pagi bidadari
manis ku. Selamat menjalakan aktivitasnya ya calon ibu dari anak ku kelak. Di
sini aku berjuang demi niat suci kita bulan depan dan demi mengarungi bahtera
rumah tangga kita. Kamulah wanita yang mampu membuat hidup ini berarti. Jaga
diri dan hati mu di sana wahai habibi.. jarak yang saling berjauhan bukanlah
masalah karena Insayaalah kita akan tinggal seatap” aku hanya diam membaca
message dari Fahri dan message itu tidak ku balaskan. Aku menjalankan aktivitas
ku seperti biasanya. Dan ketika pulang Adam menjemput ku dan kami Dinner
bersama keluarga Adam di sebuah cafe. Adam mengatakan bahwa ia akan ke bandung
untuk untuk beberapa bulan dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai AKPOL dan
dia di sana akan sangat sibuk. Aku hanya diam seakan ingin menangis karena
takut terpisah oleh Adam lagi. Orang tua Adam sangat ramah kepada ku hingga aku
tak merasa canggung berada di tengah-tengah mereka. Esoknya Adam berangkat ke
Bandung tanpa memberikan kepastian apa-apa kepada ku. Dan kami pun lost
communication.
Tibalah hari pernikahan ku dengan Fahri. Ijab kabul lancar
kami laksanakan pada 1 januari 2012 pukul 15.00 WIB namun kami tidak langsung
melaksanakan resepsi pernikahan karena lusa Fahri harus kembali ke singapore
untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih ia tunda. Setelah magrib aku dan
Fahri masuk ke kamar dan membincangkan apa rencana kami kedepannya. Fahri
memberikan kebebasan aku bekerja dan beraktivitas sesuka ku namun setelah kami
melangsungkan resepsi maka aku wajib berhenti bekerja dan mengurangi jadwal
aktivitas ku. Hari Fahri akn berangkat ke Singapore pun tiba dan ia berangkat
ke Singapore meninggalkan ku demi menghidupi keluarga kami kelak.
Tiga bulan sudah aku menikah dengan Fahri namun kami belum
melangsungkan resepsi pernikahan dan kami belum tinggal seatap dan belum
manjalani layaknya pasangan suami istri lainnya. Tapi semua itu kami jalani
dengan ikhlas karena kami yakin semuanya akan indah pada saatnya.
Suatu pagi tiba-tiba Adam menelfon dan ia mengatakan bahwa
lusa SMA tempat kami bersekolah dulu akan mengadakan Reuni Akbar dan Adam ingin
menjemput ku. Aku tidak langsung menerima ajakan dari Adam melainkan aku harus
izin dahulu kepada suami ku, dan ia memperbolehkan ku menghadiri Reuni Akbar
tersebut plus di jemput oleh Adam, namun Adam meminta ku agar aku memberikan
undangan resepsi pernikahan kami yang akan di gelar pada 4 April 2012 kepada
teman-teman ku dan Fahri juga meminta agar aku merekam semua kegiatan ku selama
Reuni.
Pukul 08.00 Adam telah menjemput ku, dia mengatakan bahwa
dia sengaja menjemput ku sedikit lebih awal karena di termasuk penitia di dalam
Reuni itu. Sekitar pukul 11.00 acara reuni di mulai. Karena tengah hari acara
pun di hentikan dan di ganti dengan sholat zuhur dan makan siang. Sekitar pukul
13.00 acara kembali di mulai dan saat itu aku sedang merekam Adam memberikan
kata sambutan dengan Handicam ku.
Tiba-tiba Reza memanggil ku agar aku naik ke pentas, aku bingung apa yang akan
ku lakukan namun aku tetap menurut kemauan Reza. Handicam ku berikan kepada Tika agar dia tetap merekam kegiatan
itu. Pertama-tama aku santai saja berada di atas pentas, namun aku mulai
bingung ketika Adam mengungkapkan perasaannya kepada ku di depan khalayak
ramai.
“Aku sadar bahwa selama sekolah kita adalah seorang musuh.
Namun pepetah yang mengatakan benci-benci lama-lama jadi cinta kini telah
berlaku kepada ku. Setelah tujuh tahun lamanya kita tidak bertemu, pertemuan
pertama kita kemarin telah menjadi awal rasa cinta ini tumbuh. Ku coba
iktikharah namun jawabannya hanyalah kamu di dalam pikiran ku. Maukah kamu
menerima cinta ku ini wahai Finda??” kata Adam sambil duduk simpuh di hadapan
ku dan menunjukkan cincin.
“Adaam, apa sih yang kamu lakukan?? Emang kamu gak malu
seperti ini di depan orang banyak?? Udah deh, mending kamu berdiri. Aku gak
suka seperti ini. Aku malu dam.” Kata ku sambil mencoba membangunkan Adam dari
duduknya.
“Finda.. aku gak peduli apapun kata mereka yang aku butuhkan
Cuma jawaban dari dari kamu. Findaa.. maukah kamu jadi pendamping hidup ku
untuk selamanya??” kata Adam
“Stop dam. Aku gak suka atas sandiwara semua ini.” Kata ku
mulai meneteskan air mata
“Finda, sandiwara apa maksud mu? Aku mencintai mu. Rasa ini
muncul berbanding tebalik waktu kita sekolah dulu. Findaa. Maukah kamu menjadi
pendamping ku??” kata Adam dengan mata penuh harap
“dam, aku akan menjawab pertanyaan mu, namun bukan sekarang.
Kita sisihkan waktu berdua namun bukan sekarang. Ayo bangun dam, malu di lihat
orang ramai.” Pinta ku ke Adam.
“aku maunya kamu jawab sekarang” sentak Adam
“Baik. Adam, sebelumnya aku mau ngucapin terimakasih ke kamu
karna kamu udah berani seperti ini di depan orang ramai. Tapiii.. satu hal yang
harus kamu tau sebenarnya aku udah menikah.. “
“Apaaaa?? Udah menikah..!!” sentak Adam
“Iyaa dam, aku udah menikah.. aku mohon jangan potong
penjelasan ku dam. Waktu Dinner kita pertama kemaren sebenarnya aku sudah
bertunangan dengan pria yang kini menjadi suami ku. Sebenarnya aku ingin
memberitahu mu tentang status ku yang sebenarnya, namun kamu tidak pernah
memberikan ku waktu untuk hal itu. Waktu kamu berangkat ke Bandung dengan tanpa
memberikan kepastian apapun, aku berfikiran bahwa kamu tidak mempunyai perasaan
apapun kepada aku sehingga aku memutuskan bahwa aku akan melanjutkan hubungan
ku ke Fahri hingga kami menikah sekarang. Jujur...... aku menyayangi mu dari
kita SMA (sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi) namun kamu yang
selalu bersifat seolah aku adalah wanita paling hina di dunia..... aku minta
maaf jika jawaban ku memberi sedikit goresan di benak mu. Namun inilah garis
dari Tuhan, ketika kamu mempunyai rasa itu namun aku telah menjadi milik orang
lain. Sekali lagi terimakasih atas semuanya dam. Kamu adalah lelaki yang tidak
akan ku lupakan hingga aku tua..” penjelasan Finda dan langsung lari dengan
tetesan air mata yang mengalir di pipinya.
“Findaaa... kamu mau kemana?? Akankah kamu meninggalkan aku
begitu saja.. (teriak Adam)”
Namun Finda seakan tidak memperdulikan apa yang di katakan
oleh Adam. Lalu Finda menghampiri Tika dan langsung memeluk erat Tika lalu
Finda nangis terisak-isak di pelukan Tika. Tak lama kemudian Finda pun
mengeluarkan tas kecil dari Ransel yang di bawanya ternyata tas kecil itu
berisi undangan yang akan di bagikan kepada teman-teman Finda namun Finda
meminta agar Tika yang membagikannya, Finda pun langsung bergegas meninggalkan Tika
sampai ia tak ingat bahwa Handicamnya masih pada tika.
Ketika malam harinya Tika pun datang ke rumah Finda dengan
membawa Handicam milik Finda. Tika sedih ketika melihat Finda masih saja
menangis walau sebenarnya Tika tidak tau apa yang sedang di raskan oleh
sahabatnya itu. Tika mencoba menghibur Finda namun Finda tetap saja menangis
lalu Tika pun mengatakan kedatangannya di sini hanya ingin menyampaikan pesan
dari keluarga Adam bahwa keluarga Adam mengundang Finda agar dapat hadir pada
Dinner di Cafe Melati malam ini. Mendengar hal itu Finda langsung duduk dan ia
mengatakan mau pergi jika Tika juga ikut dengannya dan Tika menyetujui akan hal
itu. Setelah itu Finda pun bersiap-siap dengan Pashimina biru yang pernah di
berikan Adam. Mereka pun langsung berangkat menuju Cafe Melati. Sesampainya di
sana mereka di sambut hangat oleh keluarga Adam. Finda menahan air mata di
kelopak matanya ketika ia melihat Adam mempersilahkan Finda duduk dan saat itu
Adam tersenyum dengan sejuta pertanyaan di matanya.
“Ya Allah. Dosakah hamba yang telah menyakiti salah satu
makhluk sholeh mu ini?? Apakah semua ini salah hamba yang tidak berterus terang
dari awal??” Rintih Finda di dalam hati.
Finda mengeluarkan beberapa undangan dari tasnya. Dan ia
sodorkan kepada Ibunya Adam.
Dengan menarik nafas dalam-dalam Finda pun mulai berbicara
“Tante, ini undangan pernikahan Finda dengan Fahri suami Finda. Finda harap
tante datang ya ke resepsi pernikahan Finda... Finda minta maaf jika Finda ada
salah baik itu ke tante, kakak maupun Adam.. Adam ini juga ada undangan untuk
kamu, kamu datang ya ke resepsi ku (sambil memberikan undangan di depan meja
tempat Adam duduk) dan ini juga ada undangan untuk kak Tasya, datang ya kak”
kata Finda menahan air mata.
Adam pun membuka undangan yang ku berikan “undangannya
bagus, warna biru lagi seperti warna kesukaan kita. Suami kamu juga ganteng kok
Fin, cocok sama kamu tapi lebih cocok jika kamu nikahnya sama aku Fin” kata
Adam yang juga menahan air mata.
“Adam maaf karna aku kini telah menjadi milik orang lain.
Inilah garis dari Allah buat kita” kata Finda sambil menatap Adam
Tante rahma ibunya Adam berjalan mendekati ku dan memeluk
kepala ku “kamu tak perlu meminta maaf dan merasa bersalah atas semua ini,
mungkin benar kata kamu bahwa ini adalah garis dari Yang Maha Mengetahui. Kalau
kalian berjodoh pasti suatu saat nanti kalian akan bersatu” ujar tante Rahma
“Amin Ya Robbal Alamin.. Findaa (memegang tangan ku) jalanilah
rumah tangga mu dengan Fahri baik-baik, aku di sini akan setia menanti mu hingga
kamu menjanda” Ujar Adam denga ekspresi serius.
“Iya dam. Makasih..” jawab ku
Setelah itu kami pun menyantap hidangan yang ada dan kembali
kerumah kami masing-masing.
Tibalah saatnya di gelarnya resepsi pernikahan ku dengan
Adam yang kami gelar di sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggal aku dan
Fahri setelah menikah. Adam beserta keluarganya pun datang ke resepsi
pernikahan ku. Tante Rahma memberikan ku ucapan selamat begitu pula dengan Adam
yang juga memberi ku selamat walau di kelopak matanya tersimpan air yang
mengapung.
Setelah resepsi selesai, aku pun menceritakan semuanya
kepada Fahri tentang apa yang sebenarnya telah terjadi antara aku dan Adam.
Adam hanya diam.
Menarik nafas dalam-dalam “sayaang. Kamu itu adalah istri ku
(sambil memeluk ku). Jadi apapun yang telah terjadi biarlah berlalu, yang harus
kita pikirkan saat ini adalah kita ya rumah tangga kita untuk kedepannya. Aku
menikahi mu karna Allah, kamulah wanita yang mampu menyadarkan aku betapa
pentingnya hidup sejalan dengan tegaknya agama” Kata Fahri
“makasi ya Fahri atas pengertian mu. Untuk kedepannya aku
akan berusaha untuk menjadi istri yang baik buat kamu dan ibu yang baik jika
kita punya anak kelak” kata ku
Kami pun menjalani bahtera rumah tangga ini denga harmonis.
Kesedihan ku datang ketika dua minggu kemudian Fahri harus ke Singapore. Aku
sedih karna aku tahu pasti Fahri
akan lama di Singapore namun dugaan ku salah melainkan Fahri hany seminggu di
Singapore. Lama-lama aku mulai terbiasa dengan kehidupan ku bersama suami ku.
Namun tibalah aku pada titik jenuh ku karna setelah resepsi
pernikahan aku tak lagi bekerja. Lalu aku meminta izin kepada Fahri untuk mengikuti
kursus Cooking Cake dan Fahri memberi ku izin. Setelah beberapa bulan setelah
kursus, Fahri memperbolehkan ku untuk membuka toko kue dan di situlah aku
mengisi waktu kekosongan ku ketika Fahri tidak ada di rumah.
Tanpa ku sadari pernikahan kami memasuki usia satu tahun.
Fahri mengajak ku pergi berlibur dan menghabiskan waktu berdua selama tiga hari
karna minggu depan Fahri akan ke Singapore dengan waktu yang lama. Selama kami
berlibur, Fahri meminta agar orang tua kami tinggal dirumah kami. Selama
berlibur kami menghabiskan waktu bersenang-senang berdua. Dan kami pun kembali
ke rumah dengan membawa suvernir untuk keluarga kami.
Fahri meminta keluarga kami tetap tinggal di situ sampai
Fahri kembali dari singapore. Hari ini Fahri berangkat ke Singapore, sebelum
berangkat dia meminta juga diri baik-baik dan aku harus sabar kalau jauh
darinya dan aku tidak ikut mengantarnya
ke bandara karna Fahri menyuruh ku istirahat di rumah. Fahri memberi tahu ku
bahwa dia naik pesawat Air Asia jkt24, jujur aku berat melepaskan
keberangkatannya namun dia tetap nekad berangkat. Setelah Fahri berangkat aku
hanya menonton Tv, setelah sekitar setengah jam tiba-tiba aku melihat berita
bahwa pesawat Air Asia jkt24 jurusan Pekanbaru-Singapore pecah akibat ban
pesawat yang bocor dan pesawat tidak mampu menahan kestabilan keseimbangan
badan pesawat. Aku langsung gelisah dan menelfon mertua ku agar dia kembali ke
bendara dan memastikan berita itu. Aku tak dapat tenang lalu aku ikut menyusul
ke bandara. Setelah sampai di sana ku lihat mertua ku yang menangis aku
bertanya apa yang telah terjadi pada suami ku namun tak satu pun yang menjawab.
Lalu ada petugas medis yang berteriak “Keluarga Bapak Fahri Atmaja” aku pun
spontan mendekati petugas medih itu
“saya istri bapak Fahri Atmaja, mana suami saya?? Dia
baik-baik sajakan??” kata ku sambil menarik-narik baju salah satu petugas medis
itu.
“Sabar pun sabar, suami anda tidak dapat kami selamatkan
karna dia terlalu banyak kehilangan darah. Kami sudah berusaha menolonganya
namun tuhan barkata lain buk. Sekali lagi kami minta maaf” kata petugas medis
sambil melepaskan tangan ku dari bajunya.
“Apaaa?? Ini tak mungkin. Kamu pasti bercanda” kata ku
sambil membuka kain putih yang mrnutup muka suami ku dan untuk pertama kalinya
di hidup ku, aku pingsan tak sadarkan diri.
Aku tidak tau berapa lama aku pingsan namun yang jelas
ketika aku sadar, saat itu hari sudah malam. Aku bangun dengan setengah
kesadaran ku. Tiba-tiba kakak pertama ku datang dan memeluk ku erat-erat.
“Dek, kamu sabar ya” kata kak Fita
“Iya kak, makasi” kata ku
Aku mendekati jasad suami ku, air mata ku tak dapat ku tahan
semuanya mengalir begitu saja. Ku lihat ia berada di tengah-tengah Ibu-Ibu yang
sedang membawa yasin, ku lihat juga mertua ku yang sedang menangisi kepergian
anaknya. Aku berusaha tegar atas kepergian suami ku, aku juga berusaha
menguatkan mertua dan kakak ipar ku.
Besok paginya jenazah suami ku pun di kuburkan, aku ikut
mengantarkannya sampai ketempat peristirahatannya yang terakhir. Selama
seminggu ku adakan penengajian dirumah ku. Kepergian suami ku membuat pukulan
teramat dalam di hidup ku. Setelah dua minggu kepergian suami ku, aku mulai
bangkit dan membuka kembali toko kue ku dan Alhamdulillah pelanggan ku
bertambah ramai.
Tanpa ku sadari sudah saratus hari kepergian suami ku dan
keluarga ke berkumpul dirumah ku karena aku berniat menagadakan kenduri untuk
suami ku. Entah ejekan, entah mencoba menghibur ku atau apapun itu yang jelas
dia mengatakan bahwa aku bertambah gemuk.
“Dek, sekarang makin-makin aja ya” kata kakak ipar ku
“Makin=makin apa kak??” jawab ku bingung
“Makin bahenol aja. Kamu jaga badan dong dek” ejek kakak ipar
ku
“Apa kakak ni, biasa aja kok” jawab ku sinis
Entah karena kelelahan atau apapun itu, tiba-tiba aku
pingsan dan langsung di bawa kerumah sakit. Ketika aku sadar ku lihat mertua ku
berdiri dengan ekspresi bingung, aku bertanya kepadanya apa yang terjadi pada
ku namun dia tidak menjawabnya. Lalu dokter pun datang menghampiri ku.
“Ibu Findaa.. selamat ya anda hamil. Usia kandungan anda
memasuki usia empat bulan” kata dokter Fatmala
“Apa dokter?? Saya hamil??” kata ku kaget yang tanpa ku
sadari air mata ku mengalir
“Iya bu Finda kamu hamil. Kamu sabar ya..!! kamu pasti bisa
menjalani ini semua kok. Mertua, kakak, dan orang tua mu sangat menyayangi mu
jadi pasti mereka akan menemani kaseharian mu.” Kata dokter Fatmala yang
mencoba menguatkan ku
“Iya nak. Di sini ada umi yang akan menemani mu” kata mertua
ku
“Iya umi. Maksi umi” jawab ku
Meski pun aku berada di Rumah Sakit, namun kenduri di rumah
ku tetap berjalan dengan lancar. Jujur aku tak menyangka bahwa sepeninggalnya
suami ku, aku akan hamil dan betapa bodohnya aku yang tak menyadari bahwa aku
dalam keadaan hamil. Aku berusaha menyakinkan keluarga ku bahwa aku kuat untuk
menjalani keseharian ku. Dan akhirnya mereka menjalani aktivitas mereka dan
kembali ke rumah mereka masing-masing.
Suatu hari, datanglah Adam dan Ibunya ke toko kue ku. Ibunya
Adam membawakan aku buah markisa karena kebetulan saat itu sangat menginginkan
buah markisa. Adam tiba-tiba menangis melihat ku.
“Adam. Kamu kenapa??” kata ku yang penuh tanda tanya
“Aku sedih lihat keadaan mu Fin, kamu harus kehilangan suami
mu sejak usia kandungan mu masih muda. Kalau kamu izinkan aku ingin menjaga mu
Fin agar kamu baik-baik saja sampai kamu melahirkan” jawab Adam yang berusaha
menghibur ku
“Aku gak apa-apa kok Dam. Aku udah terbiasa dengan keadaan ku.
Aku ni wanita perkasa jadi pasti aku bisa segalanya” jawab ku yang mencoba
menghibur Adam
“Fin, aku masih menati mu. Aku mau menjadi ayah yang baik
untuk anak Fahri yang sedang kamu kandung ini” kata Adam
“Apa kamu ni Dam, kan ada Ibu mu. Apa kamu gak malu bicara
begitu di depan Ibu mu sendiri” jawab ku
“Aku gak malu kok Fin, bahkan ini bukti kalau aku masih
setia menanti mu. Izinkan aku menjadi ayah bagi anak yang kamu kandung Fin”
jawab Adam
“Bukan aku gak mau dam, tapi masa iddah ku belum selesai dan
mertua ku juga sepertinya belum ikhlas jika aku akan menikah lagi” jawab ku
“Kalau mertua mu itu biar jadi urusan ku Fin” jawab Adam
Sejak saat itu Adam selalu ada di saat aku membutuhkannya.
Dan mertua mengatakan bahwa jika aku bahagia bersama Adam maka mertua ku akan
ikhlas membiarkan ku mempunyai hubungan dengan Adam. Namun aku belum berani
terang-terangan ke mertua ku. Di perkirakan aku akan melahirkan pada
pertengahan September 2013 sehingga orang tua beserta keluarga yang lain akn
datang pada awal September. Namun dugaan Dokter meleset, aku mengalami
kontraksi pada akhir Agustus 2013, aku berusaha menghubungi keluarga ku namun
tak satu pun yang dapat membantu ku karena mereka sangat sibuk. Akhirnya aku
menghubungi Adam dan Adam yang membantu membawa ku ke Rumah sakit. Aku
melahirkan anak lelaki pertama ku pada 1 September 2013 Pukul 19.30 WIB
Adam dan Ibunya setia menemani aku hingga keluarga ku datang
menjenguk ku. Aku fikir mertua dan orang tua ku akan marah karena Adam yang
membantu ku hingga aku di rumah sakit ternyata mereka malah sangat berterima
kasih kepada Adam dan Ibunya Adam. Sejak saat itu Adam pun kembali akrab kepada
aku dan anak ku. Aku memberi nama anak
ku yaitu Septa Fattan Fahda. Ketika Fattan menginjak usia 8 bulan mertua ku
memberi ku izin untuk menikah dengan Adam, aku sangat kaget karena selama ini
aku tidak pernah bercerita apapun kepada keluarga mengenai Adam. Keesokkan
harinya tanpa sepengetahuan dari ku, Adam beserta keluarganya datang kerumah
dengan niat akan melamar ku
“Findaa.. kini aku telah mengantongi restu dari semua
anggota keluarga mu. Sekarang maukah kamu menjadi istri ku?? Aku akan berusaha
menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk kamu dan anak mu” kata Adam
“Adam, aku mau menjadi istri mu asal kamu bersedia menerima
segala kekurangan ku” jawab ku
“Finda.. Insyaallah aku akn menerima segala kelebihan dan
kekurangan ku” kata Adam
Setelah lamaran itu tak lama kemudian aku menikah dengan
Adam. Dan melaksanakan resepsi besar-besaran di kediaman orang tua Adam pada 6
juni 2013, teman-teman ketika Kmai SMA dulu pun turut hadir di dalam resepsi
pernikahan ku. Setelah menikah keluarga Adam sangat menghargai ku dan anak ku.
Setelah menikah, orang tua Fahri meminta ku agar aku dan Adam tetap tinggal di
rumah yang di berikan oleh Fahri agar ia senang jika ingin menjenguk cucunya.
Sekitar pertengahan Juni Adam pindah kerumah ku.
“Finda.. maafkan aku yang pernah bahkan selalu menghina mu
ketika masa-masa SMA dulu. Ternyata wanita yang selalu ku rendahkan dulu adalah
wanita yang ku kejar-kejar saat ini” Ujar Adam
“Iyaa Dam. Aku juga minta maaf jika selama ini aku selalu
membalas hinaan dan kejahatan mu. Untuk kedepannya kita jaga rumah tangga ini
baik-baik ya dam” Ujar ku
“Iya Finda. Kini Tuhan menggariskan bahwa kamulah jodoh ku”
Ujar Adam sambil mencium kening ku
Sejak saat itu aku dan Adam membina Rumah tangga kami dengan
baik. Aku sangat bahagia menjadi istri adam dan begitu pula dengan Adam serta
anak ku
TAMAT