Pages

Rabu, 07 Oktober 2015

GARIS DARI TUHAN



Cerita ini berawal ketika aku mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saat SMA kelas dua kami di wajibkan oleh sekolah untuk memilih jurusan sesuai yang di inginkan. Ada dua jurusan yang dapat di pilih yakni IPA dan IPS, aku memilih IPA. Di situlah aku mengenal sosok laki-laki yang setiap hari selalu menjadi orang yang membuat hidup ku menjadi sial. Khairun Adam namanya yang sehari-hari di panggil adam.

Permusuhan antara aku dan Adam bermula dari OSIS, Adam ketua OSIS dan aku sekretaris OSIS, Adam termasuk orang yang keras kepala. Apa yang di inginkannya haruslah di turuti. Tak jarang apa yang menjadi kebijakannya itu selalu bertentangan dengan jalan pikiran ku sehingga kami sering sekali tidak sejalan ketika akan melaksanakan kegiatan OSIS. 

Kami sekelas namun kami tak bisa di satukan. Di kelas kami hanya kelai kalau tidak kami selalu saling diam, sehingga teman sekelas selalu mendoakan agar kami berjodoh di kemudian kelak. Tapi antara aku dan Adam tidak menyukai akan hal itu sehingga kami tambah sering kelai. Pernah suatu ketika aku selalu memimpikan Adam, aku bermimpi bahwa kami bersanding di plaminan, mimpi itu terus datang sehingga aku di kelas hanya diam. Teman ku yang bernama tika menyadari akan kediaman ku sehingga dia menanyakan apa yang telah terjadi oleh ku dan aku pun menceritakan kepada tika apa yang terjadi dan dia malah menertawakan ku. Tika mendukung jika mimpi itu benar-benar terjadi. Sejak saat itu diam-diam aku mulai mengagumi Adam. 

Banyak cara yang aku lakukan untuk menyembunyikan perasaan ku. Salah satunya aku selalu membangkang, selalu tidak menyetujui atas apa yang dilakukan dan apa yang di katakan oleh Adam. 

Rasa ini bertahan hingga kami menginjak kelas tiga semester dua. Di saat itu pelajar kelas tiga memilih Universitas yang akan di tuju setelah tamat dari SMA. Aku hanya diam karena aku tidak melanjutkan kuliah, aku mendengar kabar bahwa Adam bercita-cita ingin menjadi seorang TNI. Rasa ini sedih karena pastinya akan jauh. 

Kami pun melewati masa-masa tersisa di SMA seperti biasanya hingga kami tamat. Aku dan Adam tak pernah mengucapkan kata maaf apa lagi berniat untuk baikan. 

Tujuh tahun telah berlalu dan rasa ke Adam seakan luntur seiring berjalannya waktu. Tak pernah ku temui atau ku dengar kabar tentang Adam. 

Kini aku kerja di salah satu butik terkenal di daerah Pekanbaru. Suatu hari butik sedang ramai di kunjungi oleh pelanggan, aku pun sibuk kesana kemari melayani para pelanggan. 

“Brraakkk” tidak sengaja aku menabrak salah satu pelanggan pria butik di tempat aku bekerja hingga barang bawaannya terjatuh. Aku membereskan dengan cepat barang-barangnya yang aku jatuhkan dan aku sangat terkejut ketika pria itu menegur ku “Findaa kan??” Tegur pria itu. “Siapa ya ??” Tanya ku sambil mengingat sosok pria gagah di depan mataku. “Aku Adam. Iyakan kamu Finda? Teman sekelas ku saat SMA” kata pria itu. “Oooo Adam. Iyaa-iya aku ingat kok” kata ku bahagia. “kamu kerja di sini?? Sudah tujuh tahun ya kita tak ketemu. Kamu beda banget lho, gak kayak dulu. Sekarang tambah cute aja!!” katanya menggoda sambil mencubit halus lengan ku. “Iyaa aku kerja di sini. Hahhaha kamu ni ya dam bisa aja deh gombalnya. Kamu kerja dimana sekarang?? Udah nikah apa belum??” kata ku sambil tersipu malu. “waah ngeledek ni kayaknya. Aku belum nikah kok, belum ada yang pas, masih nungguin cinta SMA ku. Alhamdulillah aku jadi AKPOL, sekarang di tugasin di Pekanbaru.” Jawabnya serius. “siapa cinta SMA mu?? Si fita yaa?? Dia udah nikah keles. Ya baguslah dam, kalau udah mapan baru nikah.” Kata ku meledek. “gak ah, ngpain cewek kayak gitu di tungguin. Mendiiiiingg” “Dam, aku mau lanjut kerja ya.. kapan-kapan kita ngobrol lagi ya. Hari ini aku pulang jam delapan malam jadi ni mau beres-beres” kata ku memotong pembicaraan Adam. “ya udah deh kamu lanjut lah kerjanya. Ntar jam delapan aku kesini lagi, aku jemput kamu. Jalan-jalan dulu kita” katanya. “tapi....” kata ku. “gak ada tapi-tapian deh fin, aku maunya kita malam ini jalan. Mengenang masa lalu” katanya sambil mendekati kasir untuk membayar barang belanjaannya.
“Dasar pria aneh” kata ku menggerutu sendirian.

Kini waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Dan aku bersiap-siap pulang. Baru saja aku berjalan beberapa langkah dari butik tangan ku di tarik oleh pria bertopi hitam, mengenakan kemeja biru dongker dan jeans biru dongker hingga aku hampir terjatuh namun tak terjatuh karena aku berada dalam rangkulannya. Sekitar satu menit aku berada dalam rangkulannya, mata kami saling bertatapan satu sama lain dan ku lihat dari bibirnya sebuah senyuman yang selama ini tak pernah ku lihat, jantung ini berdetak lebih cepat dan darah ini mengalir begitu derasnya. Lalu aku tersadar “Lepasin aku dam. Apa-apaan ini??” kata ku. “maaf Fin, gak berniat kasar sama kamu, habisnya kamu jalan cepet banget kayak menghindar dari aku” katanya melas. “Bukan menghindar, aku gak nyangka kalau kamu beneran jemput aku” kata ku. “aku pengen ngajak kamu jalan malam ini. Itupun kalau kamu mau” kata Adam. “kamu serius?? Kalau serius aku mau kok. Banget malahan.” Kata ku bahagia. “Iya aku beneran kok. Tapi sebelum kita jalan aku mau minta Nomor hp dan Pin BB kamu dong biar kita makin sering ketemu. Dan aku memberikan nomor hp dan pin ku ke Adam. Lalu kami pun jalan-jalan. Ketika Dinner di sebuah cafe, Adam memberikan aku sebuah kotak biru dengan pita biru “ini untuk kamu. Birukan? Kayak warna kesukaan kita” katanya sambil menyerahkan kotak kepada ku. “Ey. Apa ini?? Ku buka sekarang ya dam??” kata ku. “jangan di buka sekarang, ntar aja kalau udah di rumah baru kamu buka” katanya memohon. “iya deh. Makasi ya dam. Makasi buat malam ini dan makasi atas kotak birunya.” Kata ku tersenyum manis kepada Adam. “Iya sama-sama Finda. Fin, foto-foto yuk buat kenang-kenangan kita berdua.” Katanya sambil mengeluarkan iphonenya. Kami pun silih berganti model gaya, hingga gaya wajah kami bertatapan dan sangat dekat. Kami pun saling mengirim foto-foto hasil jepretan malam ini. Aku mulai mengantuk dan Adam mengajak ku pulang dan ia mengantarkan ku sampai di depan rumah ku. Sampainya di kamar, aku langsung membuka kotak biru pemberian Adam dan isinya adalah sebuah Pashimina berwarna biru. Aku sangat bahagia atas pemberian Adam dan aku pun melihat-lihat foto kami berdua tadi, alangkah terkejutnya aku ketika aku sedar bahwa aku telah memiliki seorang tunangan yang rencananya bulan depan kami akan menikah. Aku diam dan meneteskan air mata dan merintih di dalam hati “Ya Allah, apa yang terjadi pada ku? Akankah rasa pada Adam ini muncul kembali. Tapi bagaimana dengan Fahri? Aku tak mungkin menyakiti atau meninggalkannya.. Ya Allah berikanlah hamba kekuatan untuk semua ini” tak lama aku pun tertidur dengan linangan air mata ku.
 
Aku bangun jam 05.00 seperti biasanya. Dan ketika aku melihat Handphone ku ada message dari Fahri yang isinya “Selamat pagi bidadari manis ku. Selamat menjalakan aktivitasnya ya calon ibu dari anak ku kelak. Di sini aku berjuang demi niat suci kita bulan depan dan demi mengarungi bahtera rumah tangga kita. Kamulah wanita yang mampu membuat hidup ini berarti. Jaga diri dan hati mu di sana wahai habibi.. jarak yang saling berjauhan bukanlah masalah karena Insayaalah kita akan tinggal seatap” aku hanya diam membaca message dari Fahri dan message itu tidak ku balaskan. Aku menjalankan aktivitas ku seperti biasanya. Dan ketika pulang Adam menjemput ku dan kami Dinner bersama keluarga Adam di sebuah cafe. Adam mengatakan bahwa ia akan ke bandung untuk untuk beberapa bulan dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai AKPOL dan dia di sana akan sangat sibuk. Aku hanya diam seakan ingin menangis karena takut terpisah oleh Adam lagi. Orang tua Adam sangat ramah kepada ku hingga aku tak merasa canggung berada di tengah-tengah mereka. Esoknya Adam berangkat ke Bandung tanpa memberikan kepastian apa-apa kepada ku. Dan kami pun lost communication.


Tibalah hari pernikahan ku dengan Fahri. Ijab kabul lancar kami laksanakan pada 1 januari 2012 pukul 15.00 WIB namun kami tidak langsung melaksanakan resepsi pernikahan karena lusa Fahri harus kembali ke singapore untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih ia tunda. Setelah magrib aku dan Fahri masuk ke kamar dan membincangkan apa rencana kami kedepannya. Fahri memberikan kebebasan aku bekerja dan beraktivitas sesuka ku namun setelah kami melangsungkan resepsi maka aku wajib berhenti bekerja dan mengurangi jadwal aktivitas ku. Hari Fahri akn berangkat ke Singapore pun tiba dan ia berangkat ke Singapore meninggalkan ku demi menghidupi keluarga kami kelak.
Tiga bulan sudah aku menikah dengan Fahri namun kami belum melangsungkan resepsi pernikahan dan kami belum tinggal seatap dan belum manjalani layaknya pasangan suami istri lainnya. Tapi semua itu kami jalani dengan ikhlas karena kami yakin semuanya akan indah pada saatnya.
Suatu pagi tiba-tiba Adam menelfon dan ia mengatakan bahwa lusa SMA tempat kami bersekolah dulu akan mengadakan Reuni Akbar dan Adam ingin menjemput ku. Aku tidak langsung menerima ajakan dari Adam melainkan aku harus izin dahulu kepada suami ku, dan ia memperbolehkan ku menghadiri Reuni Akbar tersebut plus di jemput oleh Adam, namun Adam meminta ku agar aku memberikan undangan resepsi pernikahan kami yang akan di gelar pada 4 April 2012 kepada teman-teman ku dan Fahri juga meminta agar aku merekam semua kegiatan ku selama Reuni.


Pukul 08.00 Adam telah menjemput ku, dia mengatakan bahwa dia sengaja menjemput ku sedikit lebih awal karena di termasuk penitia di dalam Reuni itu. Sekitar pukul 11.00 acara reuni di mulai. Karena tengah hari acara pun di hentikan dan di ganti dengan sholat zuhur dan makan siang. Sekitar pukul 13.00 acara kembali di mulai dan saat itu aku sedang merekam Adam memberikan kata sambutan dengan Handicam ku. Tiba-tiba Reza memanggil ku agar aku naik ke pentas, aku bingung apa yang akan ku lakukan namun aku tetap menurut kemauan Reza. Handicam ku berikan kepada Tika agar dia tetap merekam kegiatan itu. Pertama-tama aku santai saja berada di atas pentas, namun aku mulai bingung ketika Adam mengungkapkan perasaannya kepada ku di depan khalayak ramai.

“Aku sadar bahwa selama sekolah kita adalah seorang musuh. Namun pepetah yang mengatakan benci-benci lama-lama jadi cinta kini telah berlaku kepada ku. Setelah tujuh tahun lamanya kita tidak bertemu, pertemuan pertama kita kemarin telah menjadi awal rasa cinta ini tumbuh. Ku coba iktikharah namun jawabannya hanyalah kamu di dalam pikiran ku. Maukah kamu menerima cinta ku ini wahai Finda??” kata Adam sambil duduk simpuh di hadapan ku dan menunjukkan cincin.

“Adaam, apa sih yang kamu lakukan?? Emang kamu gak malu seperti ini di depan orang banyak?? Udah deh, mending kamu berdiri. Aku gak suka seperti ini. Aku malu dam.” Kata ku sambil mencoba membangunkan Adam dari duduknya.

“Finda.. aku gak peduli apapun kata mereka yang aku butuhkan Cuma jawaban dari dari kamu. Findaa.. maukah kamu jadi pendamping hidup ku untuk selamanya??” kata Adam

“Stop dam. Aku gak suka atas sandiwara semua ini.” Kata ku mulai meneteskan air mata

“Finda, sandiwara apa maksud mu? Aku mencintai mu. Rasa ini muncul berbanding tebalik waktu kita sekolah dulu. Findaa. Maukah kamu menjadi pendamping ku??” kata Adam dengan mata penuh harap

“dam, aku akan menjawab pertanyaan mu, namun bukan sekarang. Kita sisihkan waktu berdua namun bukan sekarang. Ayo bangun dam, malu di lihat orang ramai.” Pinta ku ke Adam.

“aku maunya kamu jawab sekarang” sentak Adam

“Baik. Adam, sebelumnya aku mau ngucapin terimakasih ke kamu karna kamu udah berani seperti ini di depan orang ramai. Tapiii.. satu hal yang harus kamu tau sebenarnya aku udah menikah.. “

“Apaaaa?? Udah menikah..!!” sentak Adam

“Iyaa dam, aku udah menikah.. aku mohon jangan potong penjelasan ku dam. Waktu Dinner kita pertama kemaren sebenarnya aku sudah bertunangan dengan pria yang kini menjadi suami ku. Sebenarnya aku ingin memberitahu mu tentang status ku yang sebenarnya, namun kamu tidak pernah memberikan ku waktu untuk hal itu. Waktu kamu berangkat ke Bandung dengan tanpa memberikan kepastian apapun, aku berfikiran bahwa kamu tidak mempunyai perasaan apapun kepada aku sehingga aku memutuskan bahwa aku akan melanjutkan hubungan ku ke Fahri hingga kami menikah sekarang. Jujur...... aku menyayangi mu dari kita SMA (sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi) namun kamu yang selalu bersifat seolah aku adalah wanita paling hina di dunia..... aku minta maaf jika jawaban ku memberi sedikit goresan di benak mu. Namun inilah garis dari Tuhan, ketika kamu mempunyai rasa itu namun aku telah menjadi milik orang lain. Sekali lagi terimakasih atas semuanya dam. Kamu adalah lelaki yang tidak akan ku lupakan hingga aku tua..” penjelasan Finda dan langsung lari dengan tetesan air mata yang mengalir di pipinya.

“Findaaa... kamu mau kemana?? Akankah kamu meninggalkan aku begitu saja.. (teriak Adam)” 

Namun Finda seakan tidak memperdulikan apa yang di katakan oleh Adam. Lalu Finda menghampiri Tika dan langsung memeluk erat Tika lalu Finda nangis terisak-isak di pelukan Tika. Tak lama kemudian Finda pun mengeluarkan tas kecil dari Ransel yang di bawanya ternyata tas kecil itu berisi undangan yang akan di bagikan kepada teman-teman Finda namun Finda meminta agar Tika yang membagikannya, Finda pun langsung bergegas meninggalkan Tika sampai ia tak ingat bahwa Handicamnya masih pada tika.

Ketika malam harinya Tika pun datang ke rumah Finda dengan membawa Handicam milik Finda. Tika sedih ketika melihat Finda masih saja menangis walau sebenarnya Tika tidak tau apa yang sedang di raskan oleh sahabatnya itu. Tika mencoba menghibur Finda namun Finda tetap saja menangis lalu Tika pun mengatakan kedatangannya di sini hanya ingin menyampaikan pesan dari keluarga Adam bahwa keluarga Adam mengundang Finda agar dapat hadir pada Dinner di Cafe Melati malam ini. Mendengar hal itu Finda langsung duduk dan ia mengatakan mau pergi jika Tika juga ikut dengannya dan Tika menyetujui akan hal itu. Setelah itu Finda pun bersiap-siap dengan Pashimina biru yang pernah di berikan Adam. Mereka pun langsung berangkat menuju Cafe Melati. Sesampainya di sana mereka di sambut hangat oleh keluarga Adam. Finda menahan air mata di kelopak matanya ketika ia melihat Adam mempersilahkan Finda duduk dan saat itu Adam tersenyum dengan sejuta pertanyaan di matanya. 

“Ya Allah. Dosakah hamba yang telah menyakiti salah satu makhluk sholeh mu ini?? Apakah semua ini salah hamba yang tidak berterus terang dari awal??” Rintih Finda di dalam hati.

Finda mengeluarkan beberapa undangan dari tasnya. Dan ia sodorkan kepada Ibunya Adam.

Dengan menarik nafas dalam-dalam Finda pun mulai berbicara “Tante, ini undangan pernikahan Finda dengan Fahri suami Finda. Finda harap tante datang ya ke resepsi pernikahan Finda... Finda minta maaf jika Finda ada salah baik itu ke tante, kakak maupun Adam.. Adam ini juga ada undangan untuk kamu, kamu datang ya ke resepsi ku (sambil memberikan undangan di depan meja tempat Adam duduk) dan ini juga ada undangan untuk kak Tasya, datang ya kak” kata Finda menahan air mata.

Adam pun membuka undangan yang ku berikan “undangannya bagus, warna biru lagi seperti warna kesukaan kita. Suami kamu juga ganteng kok Fin, cocok sama kamu tapi lebih cocok jika kamu nikahnya sama aku Fin” kata Adam yang juga menahan air mata.

“Adam maaf karna aku kini telah menjadi milik orang lain. Inilah garis dari Allah buat kita” kata Finda sambil menatap Adam

Tante rahma ibunya Adam berjalan mendekati ku dan memeluk kepala ku “kamu tak perlu meminta maaf dan merasa bersalah atas semua ini, mungkin benar kata kamu bahwa ini adalah garis dari Yang Maha Mengetahui. Kalau kalian berjodoh pasti suatu saat nanti kalian akan bersatu” ujar tante Rahma

“Amin Ya Robbal Alamin.. Findaa (memegang tangan ku) jalanilah rumah tangga mu dengan Fahri baik-baik, aku di sini akan setia menanti mu hingga kamu menjanda” Ujar Adam denga ekspresi serius.

“Iya dam. Makasih..” jawab ku

Setelah itu kami pun menyantap hidangan yang ada dan kembali kerumah kami masing-masing.

Tibalah saatnya di gelarnya resepsi pernikahan ku dengan Adam yang kami gelar di sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggal aku dan Fahri setelah menikah. Adam beserta keluarganya pun datang ke resepsi pernikahan ku. Tante Rahma memberikan ku ucapan selamat begitu pula dengan Adam yang juga memberi ku selamat walau di kelopak matanya tersimpan air yang mengapung.

Setelah resepsi selesai, aku pun menceritakan semuanya kepada Fahri tentang apa yang sebenarnya telah terjadi antara aku dan Adam. Adam hanya diam.

Menarik nafas dalam-dalam “sayaang. Kamu itu adalah istri ku (sambil memeluk ku). Jadi apapun yang telah terjadi biarlah berlalu, yang harus kita pikirkan saat ini adalah kita ya rumah tangga kita untuk kedepannya. Aku menikahi mu karna Allah, kamulah wanita yang mampu menyadarkan aku betapa pentingnya hidup sejalan dengan tegaknya agama” Kata Fahri

“makasi ya Fahri atas pengertian mu. Untuk kedepannya aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik buat kamu dan ibu yang baik jika kita punya anak kelak” kata ku

Kami pun menjalani bahtera rumah tangga ini denga harmonis. Kesedihan ku datang ketika dua minggu kemudian Fahri harus ke Singapore. Aku sedih karna aku tahu pasti Fahri akan lama di Singapore namun dugaan ku salah melainkan Fahri hany seminggu di Singapore. Lama-lama aku mulai terbiasa dengan kehidupan ku bersama suami ku.

Namun tibalah aku pada titik jenuh ku karna setelah resepsi pernikahan aku tak lagi bekerja. Lalu aku meminta izin kepada Fahri untuk mengikuti kursus Cooking Cake dan Fahri memberi ku izin. Setelah beberapa bulan setelah kursus, Fahri memperbolehkan ku untuk membuka toko kue dan di situlah aku mengisi waktu kekosongan ku ketika Fahri tidak ada di rumah. 

Tanpa ku sadari pernikahan kami memasuki usia satu tahun. Fahri mengajak ku pergi berlibur dan menghabiskan waktu berdua selama tiga hari karna minggu depan Fahri akan ke Singapore dengan waktu yang lama. Selama kami berlibur, Fahri meminta agar orang tua kami tinggal dirumah kami. Selama berlibur kami menghabiskan waktu bersenang-senang berdua. Dan kami pun kembali ke rumah dengan membawa suvernir untuk keluarga kami.

Fahri meminta keluarga kami tetap tinggal di situ sampai Fahri kembali dari singapore. Hari ini Fahri berangkat ke Singapore, sebelum berangkat dia meminta juga diri baik-baik dan aku harus sabar kalau jauh darinya dan  aku tidak ikut mengantarnya ke bandara karna Fahri menyuruh ku istirahat di rumah. Fahri memberi tahu ku bahwa dia naik pesawat Air Asia jkt24, jujur aku berat melepaskan keberangkatannya namun dia tetap nekad berangkat. Setelah Fahri berangkat aku hanya menonton Tv, setelah sekitar setengah jam tiba-tiba aku melihat berita bahwa pesawat Air Asia jkt24 jurusan Pekanbaru-Singapore pecah akibat ban pesawat yang bocor dan pesawat tidak mampu menahan kestabilan keseimbangan badan pesawat. Aku langsung gelisah dan menelfon mertua ku agar dia kembali ke bendara dan memastikan berita itu. Aku tak dapat tenang lalu aku ikut menyusul ke bandara. Setelah sampai di sana ku lihat mertua ku yang menangis aku bertanya apa yang telah terjadi pada suami ku namun tak satu pun yang menjawab. Lalu ada petugas medis yang berteriak “Keluarga Bapak Fahri Atmaja” aku pun spontan mendekati petugas medih itu

“saya istri bapak Fahri Atmaja, mana suami saya?? Dia baik-baik sajakan??” kata ku sambil menarik-narik baju salah satu petugas medis itu.

“Sabar pun sabar, suami anda tidak dapat kami selamatkan karna dia terlalu banyak kehilangan darah. Kami sudah berusaha menolonganya namun tuhan barkata lain buk. Sekali lagi kami minta maaf” kata petugas medis sambil melepaskan tangan ku dari bajunya.

“Apaaa?? Ini tak mungkin. Kamu pasti bercanda” kata ku sambil membuka kain putih yang mrnutup muka suami ku dan untuk pertama kalinya di hidup ku, aku pingsan tak sadarkan diri.

Aku tidak tau berapa lama aku pingsan namun yang jelas ketika aku sadar, saat itu hari sudah malam. Aku bangun dengan setengah kesadaran ku. Tiba-tiba kakak pertama ku datang dan memeluk ku erat-erat.

“Dek, kamu sabar ya” kata kak Fita 

“Iya kak, makasi” kata ku

Aku mendekati jasad suami ku, air mata ku tak dapat ku tahan semuanya mengalir begitu saja. Ku lihat ia berada di tengah-tengah Ibu-Ibu yang sedang membawa yasin, ku lihat juga mertua ku yang sedang menangisi kepergian anaknya. Aku berusaha tegar atas kepergian suami ku, aku juga berusaha menguatkan mertua dan kakak ipar ku.

Besok paginya jenazah suami ku pun di kuburkan, aku ikut mengantarkannya sampai ketempat peristirahatannya yang terakhir. Selama seminggu ku adakan penengajian dirumah ku. Kepergian suami ku membuat pukulan teramat dalam di hidup ku. Setelah dua minggu kepergian suami ku, aku mulai bangkit dan membuka kembali toko kue ku dan Alhamdulillah pelanggan ku bertambah ramai.

Tanpa ku sadari sudah saratus hari kepergian suami ku dan keluarga ke berkumpul dirumah ku karena aku berniat menagadakan kenduri untuk suami ku. Entah ejekan, entah mencoba menghibur ku atau apapun itu yang jelas dia mengatakan bahwa aku bertambah gemuk.

“Dek, sekarang makin-makin aja ya” kata kakak ipar ku
“Makin=makin apa kak??” jawab ku bingung
“Makin bahenol aja. Kamu jaga badan dong dek” ejek kakak ipar ku
“Apa kakak ni, biasa aja kok” jawab ku sinis

Entah karena kelelahan atau apapun itu, tiba-tiba aku pingsan dan langsung di bawa kerumah sakit. Ketika aku sadar ku lihat mertua ku berdiri dengan ekspresi bingung, aku bertanya kepadanya apa yang terjadi pada ku namun dia tidak menjawabnya. Lalu dokter pun datang menghampiri ku.

“Ibu Findaa.. selamat ya anda hamil. Usia kandungan anda memasuki usia empat bulan” kata dokter Fatmala
“Apa dokter?? Saya hamil??” kata ku kaget yang tanpa ku sadari air mata ku mengalir
“Iya bu Finda kamu hamil. Kamu sabar ya..!! kamu pasti bisa menjalani ini semua kok. Mertua, kakak, dan orang tua mu sangat menyayangi mu jadi pasti mereka akan menemani kaseharian mu.” Kata dokter Fatmala yang mencoba menguatkan ku
“Iya nak. Di sini ada umi yang akan menemani mu” kata mertua ku
“Iya umi. Maksi umi” jawab ku

Meski pun aku berada di Rumah Sakit, namun kenduri di rumah ku tetap berjalan dengan lancar. Jujur aku tak menyangka bahwa sepeninggalnya suami ku, aku akan hamil dan betapa bodohnya aku yang tak menyadari bahwa aku dalam keadaan hamil. Aku berusaha menyakinkan keluarga ku bahwa aku kuat untuk menjalani keseharian ku. Dan akhirnya mereka menjalani aktivitas mereka dan kembali ke rumah mereka masing-masing.

Suatu hari, datanglah Adam dan Ibunya ke toko kue ku. Ibunya Adam membawakan aku buah markisa karena kebetulan saat itu sangat menginginkan buah markisa. Adam tiba-tiba menangis melihat ku.

“Adam. Kamu kenapa??” kata ku yang penuh tanda tanya
“Aku sedih lihat keadaan mu Fin, kamu harus kehilangan suami mu sejak usia kandungan mu masih muda. Kalau kamu izinkan aku ingin menjaga mu Fin agar kamu baik-baik saja sampai kamu melahirkan” jawab Adam yang berusaha menghibur ku
“Aku gak apa-apa kok Dam. Aku udah terbiasa dengan keadaan ku. Aku ni wanita perkasa jadi pasti aku bisa segalanya” jawab ku yang mencoba menghibur Adam
“Fin, aku masih menati mu. Aku mau menjadi ayah yang baik untuk anak Fahri yang sedang kamu kandung ini” kata Adam
“Apa kamu ni Dam, kan ada Ibu mu. Apa kamu gak malu bicara begitu di depan Ibu mu sendiri” jawab ku
“Aku gak malu kok Fin, bahkan ini bukti kalau aku masih setia menanti mu. Izinkan aku menjadi ayah bagi anak yang kamu kandung Fin” jawab Adam
“Bukan aku gak mau dam, tapi masa iddah ku belum selesai dan mertua ku juga sepertinya belum ikhlas jika aku akan menikah lagi” jawab ku
“Kalau mertua mu itu biar jadi urusan ku Fin” jawab Adam

Sejak saat itu Adam selalu ada di saat aku membutuhkannya. Dan mertua mengatakan bahwa jika aku bahagia bersama Adam maka mertua ku akan ikhlas membiarkan ku mempunyai hubungan dengan Adam. Namun aku belum berani terang-terangan ke mertua ku. Di perkirakan aku akan melahirkan pada pertengahan September 2013 sehingga orang tua beserta keluarga yang lain akn datang pada awal September. Namun dugaan Dokter meleset, aku mengalami kontraksi pada akhir Agustus 2013, aku berusaha menghubungi keluarga ku namun tak satu pun yang dapat membantu ku karena mereka sangat sibuk. Akhirnya aku menghubungi Adam dan Adam yang membantu membawa ku ke Rumah sakit. Aku melahirkan anak lelaki pertama ku pada 1 September 2013 Pukul 19.30 WIB

Adam dan Ibunya setia menemani aku hingga keluarga ku datang menjenguk ku. Aku fikir mertua dan orang tua ku akan marah karena Adam yang membantu ku hingga aku di rumah sakit ternyata mereka malah sangat berterima kasih kepada Adam dan Ibunya Adam. Sejak saat itu Adam pun kembali akrab kepada aku dan  anak ku. Aku memberi nama anak ku yaitu Septa Fattan Fahda. Ketika Fattan menginjak usia 8 bulan mertua ku memberi ku izin untuk menikah dengan Adam, aku sangat kaget karena selama ini aku tidak pernah bercerita apapun kepada keluarga mengenai Adam. Keesokkan harinya tanpa sepengetahuan dari ku, Adam beserta keluarganya datang kerumah dengan niat akan melamar ku

“Findaa.. kini aku telah mengantongi restu dari semua anggota keluarga mu. Sekarang maukah kamu menjadi istri ku?? Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk kamu dan anak mu” kata Adam
“Adam, aku mau menjadi istri mu asal kamu bersedia menerima segala kekurangan ku” jawab ku
“Finda.. Insyaallah aku akn menerima segala kelebihan dan kekurangan ku” kata Adam

Setelah lamaran itu tak lama kemudian aku menikah dengan Adam. Dan melaksanakan resepsi besar-besaran di kediaman orang tua Adam pada 6 juni 2013, teman-teman ketika Kmai SMA dulu pun turut hadir di dalam resepsi pernikahan ku. Setelah menikah keluarga Adam sangat menghargai ku dan anak ku. Setelah menikah, orang tua Fahri meminta ku agar aku dan Adam tetap tinggal di rumah yang di berikan oleh Fahri agar ia senang jika ingin menjenguk cucunya. Sekitar pertengahan Juni Adam pindah kerumah ku. 

“Finda.. maafkan aku yang pernah bahkan selalu menghina mu ketika masa-masa SMA dulu. Ternyata wanita yang selalu ku rendahkan dulu adalah wanita yang ku kejar-kejar saat ini” Ujar Adam
“Iyaa Dam. Aku juga minta maaf jika selama ini aku selalu membalas hinaan dan kejahatan mu. Untuk kedepannya kita jaga rumah tangga ini baik-baik ya dam” Ujar ku
“Iya Finda. Kini Tuhan menggariskan bahwa kamulah jodoh ku” Ujar Adam sambil mencium kening ku

Sejak saat itu aku dan Adam membina Rumah tangga kami dengan baik. Aku sangat bahagia menjadi istri adam dan begitu pula dengan Adam serta anak ku

TAMAT